Shahih Bukhari
Shahih Bukhari adalah kitab fundamental di bidang hadis yang diyakini kitab tershahih dari beberapa hadisMore
Shahih Muslim
Shahih Muslim meski diyakini sebagai kitab tershaih kedua setelah Shahih Bukhari...More
Sunan at-Tirmidzi
Salah satu kutub Sittah yang menjadi rujukan ahli hadis, eros...More
Sunan Abi Daud
Sunan Abi Daud banyak dijadikan sebagai kitab rujukan dalam masalah fikih quam...More
Thursday, September 3, 2020
Apa Maksud dari Ungkapan Aw Kama Qala?
Monday, February 5, 2018
Apa Saja Langkah Penelitian Hadis Tematis?
Wednesday, January 31, 2018
Motif Penipuan Data atau Tadlis dalam Hadis
Apa Maksud dari Takhrij al-Hadits ( تخريج الحديث )?
Biografi Taj ad-Din at-Tibrizi ( تاج الدين التبريزي )
Siapakah yang Dimaksud Tabi'i?
Apa Saja Fungsi Hadis terhadap Alquran?
Mengenal Kata Bid'ah
Macam-Macam Inkar Sunnah
Macam-Macam Inkar Sunnah
Urutan Sahabat Paling Utama
Jalur Sanad Paling Shahih
Shabat yang Meninggal Terakhir
Bentuk Singkat Periwayatan Hadis
Apa Maksud dari Akhbaranâ ( أخبرنا ) ?
Saturday, January 13, 2018
Bagaimana Cara Melalui Uji Komparasi Hadis?
Kajian komparasi atau dikenal dengan I’tibar adalah bagaimana hadis yang menjadi objek penelitian diuji secara komparatif. Artinya, Hadis dengan isnad yang ada dicarikan daftar rujukan sebagai bagai perbandingan utamanya ketika memiliki unsur kesamaan, baik secara lafdzi ataupun makna. Hal ini sebagai langkah untuk menemukan daftar rujukan yang saling menguatkan antar jalur dalam konsep Tabi’ atau Syahid.
Kajian I’tibar ini bisa memanfaatkan data pada penelitian salamah min asy-syudzud wa al-ilal. Untuk itu referensinya, hampir sama. Meski demikian, pengembangan harus tetap dilakukan, utamanya untuk menemukan hadis yang semakna atau seirama. Referensi bisa memanfaatkan kitab-kitab Jami’ semacam: 1. Jami’ al-Ahadts oleh as-Suyuhti 2. Jami’ al-Masanid oleh Ibn Katsir 3. Jami’ al-Ushul oleh Ibn al-Atsir 4. Kanz al-‘Ummal oleh al-Hindi 5. Mu’jam al-Mufahras 6. Dls.
Kitab-kitab di atas akan menunjukkan bahwa satu hadis diriwayatkan oleh beberapa jalur mukharrij. Kita tinggal mencari isnadnya yang dilanjutkan dengan penelitian pada masing-masing isnad. Setelah itu, baru kita tahu bahwa jalur mana yang shahih, hasan dan dha’if. Melalui perbandingan ini, kita dapat mengetahui secara hukum, Shahih li Ghairih, Hasan li Ghairih, atau Dha’if li Ghairih.
Untuk kajian I’tibar sebatas antara hadis ke hadis cukup dengan langkah-langkah di atas. Akan tetapi, terkadang satu tema hadis justru diriwayatkan secara maknawi dengan teks hadis yang bisa berbeda, tapi maksud sama. Atau juga memiliki kesamaan misi pada maqashid asy-Syariah yang bisa memperkuat hadis yang kita teliti saat ditemukan kelemahan. Perlu kejelian lebih lanjut, untuk menemukan Tabi’ atau Syahid. Akan tetapi, paling tidak langkah di atas dapat memudahkan untuk melakukan kajian awal.
Bagaimana Cara Mengetahui Kualitas Rawi?
Quwwah ar-Ruwat berkaitan erat dengan dua sifat yang harus dimiliki oleh seorang perawi hadis; ‘Adalah (integritas) dan Dhabth (intlektualitas). Kepemilikan dua sifat ini mutlak diperlukan bagi seorang rawi karena untuk memastikan otentisitas dan akurasi hadis yang diriwayatkan. Dengan bekal dua sifat tersebut, setidaknya kita bisa memastikan akurasi hadis yang sampaikan oleh rawi, tanpa ada cacat berupa pendistorsian (tahrif), manipulasi data (tadlis), dan terjadinya penambahan dan penguranan pada teks hadis atau isnadnya.
Untuk menelisik kualitas rawi pada rangkaian isnad kita cukup dengan mencari komentar para kritikus (Naqid) yang tertuang dalam Kutub ar-Rijal. Di antara kitab-kitab yang bisa digunakan adalah: 1. At-Tarikh al-Kabir oleh Imam Bukhari 2. Tahdzib al-Kamal oleh al-Mizzi 3. Tahdzib at-Tahdzib oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani 4. Kitab ats-Tsiqat oleh Ibn Hibban at-Tamimi 5. Kitab al-Jarh wa at-Ta’dil oleh Ibn Abi Hatim 6. Mizan al-I’tidal oleh adz-Dzahabi 7. Maushu’ah Aqwal al-Imam Ahmad bin Hanbal fi Rijal al-Hadits wa ‘Ilalihi. 8. Maushu’ah Aqwal Abi al-Hasan ad-Daruquthni fi Rijal al-Hadits wa ‘Ilalihi. 9. Al-Madkhal ila Ma’rifah ma Usykila min Asma’I ar-Rijal fi ash-Shahihain, oleh Imam Hakim. 10. Al-Kamil fi Dhu’afa’ ar-Rijal oleh al-Hafidz al-Jurjani.
Hanya yang perlu diperhatikan pada pemanfaatan kitab Rijal ini, ada beberapa kode yang harus dipahami. Hal ini pertama, untuk memastikan apakah nama yang dicari betul-betul sudah tepat sesuai dengan jalur isnad yang diteliti atau justru berada di jalur lain, sebab satu nama bisa dimiliki oleh lebih dari satu orang, atau bahkan sampai puluhan. Untuk mengerucutkan kajian, kode pada nama bisa dijadikan petunjuk awal agar tidak salah orang, sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan ittishal as-sanad.
Selanjutnya, penelitian difokuskan pada komentar sang kritikus pada rawi dimaksud. Pada kitab-kitab seperti di atas, atau sejenisnya akan ditemukan komentar para naqid atau kritikus terkait dengan rawi yang dituju. Di sinilah akan ditemukan kode-kode vonis dengan macam tingkatan dan model penyampaian, seperti Tsiqatun, Laysa bil Qawi, Laysa bi Syai’, dan Dha’if. Maksud pada vonis para naqid ini, bisa dilihat di Kamus Istilah Hadis.
Untuk itu, saat dalam pencarian masing-masing rawi dalam kajian Ittishal as-Sanad, ketika ditemukan komentar para Naqid terkait dengan kualitas rawi bisa langsung ditulis. Ketika berlanjut pada kajian quwwah ar-Ruwat tidak perlu mencari ulang, tinggal memasukkannya dalam daftar atau sekedul rawi.
Contoh pada kitab Tahdzib at-Tahdzib (2:107) demikian:
من اسمه جويرية )خ م د س ق( جويرية بن اسماء بن عبيد بن مخارق ويقال مخراق الضبعي أبو مخارق ويقال أبو أسماء البصري. روى عن أبيه ونافع والزهري وبديح مولى عبدالله بن جعفر ومالك بن أنس وهو من اقرانه وغيرهم . وعنه حبان بن هلال وحجاج بن منهال وابن أخته سعيد بن عامر الضبعي وابن أخيه عبدالله بن محمد بن أسماء وأبو عبد الرحمن المقري وأبو سلمة ويحيى القطان ويزيد بن هارون ومسدد وأبو الوليد وغيرهم . قال ابن معين ليس به بأس وقال أحمد ثقة ليس به بأس وقال أبو حاتم صالح. قلت: أرخ البخاري وغيره وفاته سنة (173) وكذلك ابن حبان في الثقات وقال ابن سعد كان صاحب علم كثير وذكره ابن المديني في الطبقة السابعة من أصحاب نافع.
Agar tidak salah orang, ketika ingin mencari biodata atas nama Juwairiyah, penlu mengamati kode pada sebelum nama. Melihat kode, berarti Juwairiyah yang dimaksud adalah jalur al-Bukhari, Muslim, Abi Daud, an-Nasa’i dan Ibn Majah. Daftar nama guru diawali dengan kata Rawa ‘an......., sedangkan daftar murid diawali dengan kata wa ‘Anhu..... Kemudian, dalam al-Jarh wa at-Ta’dil mengutip komentar dari Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim, sebagai data quwwah ar-ruwat. Tahun wafat juga disebutkan pada biodata ini.
Masalah yang mungkin menjadi titik perhatian adalah munculnya ta’arudh di antara vonis para naqidin. Pertentangan tidak hanya pada antar kelas pada Ta’dil dan Tajrih saja, melainkan pula antara at-Ta’dil dan al-Jarh. Kalau dalam satu kelas, semisal sama-sama Ta’dil, cuma beda tingkatan, mungkin tidak menjadi masalah serius. Akan tetapi, jika pertentangan antara al-Jarh dan at-Ta’dil, maka menjadi persoalan yang serius. Untuk hal ini, juga dapat dirujuk pada Kamus Istilah Hadis terkait Ta’arudh al-Jarh wa at-Ta’dil.
